MERAIH SUMBER KEBAIKAN - kajian MQPagi
May 20, 2019
  • 40

Kajian MQ Pagi, 20-05-2019
Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Ingin bahagia, ingin mulia dan ingin selamat dunia akhirat.

Nah semua itu hanya ada pada perintah Alloh. Apa yang Alloh perintahkan kepada kita, kalau kita menjalaninya dengan niat yang baik dan cara yang benar, kita akan bahagia, kita akan mulia dan kita akan selamat.

Jadi kita harus lebih menyederhanakan hidup ini jangan dibuat rumit. Bagaimana tentang harta, gelar, pangkat, jabatan, kedudukan, popularitas, apakah itu sumber kebahagiaan? Bisa iya bisa tidak.
Kalau niatnya benar dalam menjalani kehidupan duniawi ini, dia bisa bahagia.

Jadi jangan anggap orang kaya itu tidak bahagia, kalau niat menjemput kekayaannya dengan cara yang benar dan menggunakan kekayaannya dengan cara yang benar, insyaaAlloh dia bahagia. Dan jangan anggap orang miskin itu sengsara, kalau dia orangnya benar, dan sikapnya benar, walaupun miskin bisa bahagia. Kalau niatnya salah, caranya salah akan sengsara.

Sengsara, hina, celaka, itu adanya pada larangan Alloh. Jadi kalau Alloh melarang sesuatu, itu karena akan membuat kita hina, sengsara dan celaka. Namun, nafsu kita itu terbalik. Nafsu kita itu menganggap apa yang dilarang Alloh itu bagus, dan yang diperintahkan Alloh itu jelek.

Contoh yang diperintahkan Alloh yaitu ikhlas, orang ikhlas itu bahagia. Kebalikan dari ikhlas yaitu riya atau sum'ah, riya itu senang memperlihatkan amal untuk diketahui orang. Kalau sum'ah senang menceritakan amalnya supaya dipuji orang. Orang riya itu tidak bahagia, dia gelisah, ingin dipuji orang itu gelisah, orang yang suka pamer itu tidak mulia dan amalnya tidak akan menyelamatkan dirinya.

Contoh lain jangan dekati zina, berarti pada zina itu ada kehinaan, ada kesengsaraan dan ada celaka. Coba lihat yang berzina berapa saat kesenangannya, bandingkan dengan kehinaannya.

Makanya kita belajar agama, barangsiapa yang dikehendaki Alloh kebaikan baginya, Alloh berikan paham agama, dari paham yang diperintah dan dilarang berarti kita paham hidup bahagia, hidup mulia dan hidup selamat. Dan kita paham dimana sengsara, dimana celaka, dimana hina. Itu pentingnya kita paham ilmu agama.

Orang yang sombong itu tidak bahagia, karena sombong itu larangan dari Alloh. Tidak masuk surga orang yang dihatinya ada sombong walau sebesar zarah. Sekecil apapun kalau kita sombong itu akan dimurkai oleh Alloh. Kebalikan dari sombong adalah orang yang tawadhu, orang yang rendah hati pasti hidupnya bahagia, mulia dan selamat.

Jadi jangan dibuat rumit hidup ini, apa yang disukai Alloh sebisa mungkin kita lakukan. Rasulullah menganjurkan kita untuk "mintalah fatwa ke hatimu", setiap kebaikan Alloh tanamkan sakinah ke hati kita, tenang, nyaman, enak karena kebaikan itu akan berbuah ketenangan. Orang yang baiknya asli itu tidak penting sikap orang ke kita, yang pentingnya diterima oleh Alloh.

Dan ciri dosa itu dua,
1. Gelisah, bimbang, ragu, cemas.
2. Takut ketahuan orang

Jadi, hidup bahagia, mulia atau sengsara itu tidak identik dia punya dunia atau tidak, tapi punya taat atau tidak. Dan taatnya bukan lahir saja tapi ke batin kita juga.

Jadi kita harus yakin sekali bahwa kalau hati kita sudah mulai tidak nyaman, galau, gelisah, tidak tenang, itu alarm dari Alloh kita sedang melakukan kesalahan.

Orang yang hatinya baik akan memancar kebaikannya. Mulai saat ini mari kita analisa suasana hati kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang salah menyikapi dan kita selalu minta petunjuk kepada Alloh, karena Alloh yang Maha Tahu Segalanya, Alloh yang memberi hidayah dan kendalikan diri jangan sampai kita menjadi orang yang emosional.